Tourism

Herman Kiripi & Karya Seni Khas Suku Kamoro

Pernahkah mendengar nama Herman Kiripi? Herman Kiripi merupakan salah satu warga suku Kamoro di Papua yang saat ini melanjutkan tradisi mengukir kayu. Dia bersama beberapa rekannya terus mengukir kayu untuk suvenir atau cinderamata khas suku Kamoro.

HK

Keahlian Herman bersama rekan-rekannya ditunjukkan dalam acara “Papua Day” yang digelar di halaman Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Jumat kemarin (3/6).

Bersama dua orang rekannya Johanis dan Leo, ketiganya mengukir sebuah suvenir seperti perisai, jimbe yang terbuat dari kayu merbau. Herman dan rekannya selama ini telah berkeliling Indonesia untuk pameran hasil pahatan/ukiran suku Kamoro yang diprakarsai oleh PT Freeport Indonesia. Dengan cekatan, ketiganya menggunakan sebuah pisau ukir dan bantalan kayu sebagai palu menyelesaikan ukirannya.

“Semua orang pasti punya keinginan untuk maju. Saya dan teman-teman dari Kamoro yang masih melanjutkan tradisi budaya mengukir kayu juga ingin maju,” ungkap Herman.

Dia meyakini setiap usaha yang dilakukan pasti ada jalan. Pada saat ini dia dan masyarakat suku Kamoro yang berprofesi sebagai pengukir kayu ini didampingi beberapa lembaga untuk menperkenalkan tradisi budaya Kamoro.

Herman sedikit bercerita tentang pengalamannya, dulu setelah lulus SMA dia bermimpi bisa melanjutkan kuliah. Namun ternyata beasiswa yang disediakan terbatas dan dia tidak lolos mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi. Dengan adanya bantuan dari sponsor ternyata Herman dan beberapa rekannya bisa berkeliling Indonesia seperti Jakarta dan Yogyakarta untuk memperkenalkan tradisi dan budaya Suku Kamoro.

“Itu yang kami yakini, meski dengan mengukir yang merupakan tradisi turun temurun, kami bisa maju,” papar Herman yang saat ini tinggal di wilayah Wonosarijaya, Mimika, Papua.

Dia juga berkeinginan di Mimika ada museum yang menyimpan semua benda-benda dari masyarakat suku Kamoro. Saat ini sudah ada yayasan yang membantu mengembangkan seni budaya di Kamoro.

Luluk Intarti, salah satu pendamping, mengungkapkan dirinya telah mendampingi suku Kamoro sejak tahun 1997. Selain mendampingi Suku Kamoro dalam kegiatan seni ukir, dia juga mendukung dengan mengumpulkan berbagai benda-benda milik suku Kamoro yang bisa disimpan di sebuah museum.

“Lahan atau tanah untuk museum sudah ada, saat ini untuk pembangunannya masih mencari donatur agar cepat terwujud,” kata Luluk.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button