Iga Bakar ini Salah Satu Icon Street Food Kota Kembang
Foto: Yunitali.wordpress.com
Jangan ngaku pernah ke Kota Kembang jika belum mampir ke salah satu icon kuliner kaki lima ini. Warga Bandung sudah pasti hapal dengan warung tenda Iga Bakar Si Jangkung. Sesuai namanya, menu utama adalah iga bakar sapi yang disajikan dalam hot plate yang terbuat dari tanah liat. Anda akan disuguhi iga bakar dalam keadaan meletup-letup karena baru saja diangkat dari perapian. Sangat mendukung untuk cuaca Bandung yang dingin. Iga bakar tersebut dipotong dadu dengan kuah kental yang berwarna coklat kehitaman dengan irisan cabe rawit merah. Iga bakar menjadi menu andalan, karena rasanya yang memang juara. Dagingnya sangat empuk, bumbunya meresap, dengan kuah yang tidak terlalu pedas karena ditambahkan kecap. Setiap malam tempat ini akan dipenuhi banyak pembeli yang menikmati iga bakar panas-panas nan lezat.
Menurut pemiliknya, Mas Jangkung, rahasia resep iga bakar bisa menjadi super empuk adalah proses memasaknya berlapis. Awalnya daging direbus sekitar tiga jam. Ketika pelanggan memesan, baru kemudian dibakar menggunakan hot plate khas yang lebih dikenal sebagai cobek. Agar rasanya lebih gurih, Mas Jangkung tidak menggunakan minyak, tetapi margarin. Proses terakhir sebelum sampai di tangan pembeli, iga bakar akan diberi taburan keju yang menambah meriah rasa iga bakarnya. Satu lagi yang membedakan dengan iga bakar lain, Mas Jangkung tidak menyertakan tulang iganya di piring saji. Tapi hanya potongan daging yang diambil dari bagian iga.
Selain iga bakar, menu khas lainnya yang patut dicoba adalah tongseng sapi. Sama dengan iga bakar, daging tongseng sapi di tempat ini sangat empuk, mudah dikunyah karena tidak alot. Disajikan dalam mangkok berkuah kuning dengan porsi sedang, pelengkapnya adalah irisan tomat dan kol. Kuahnya kental karena terbuat dari santan yang serupa gulai. Tak kalah unik adalah sop bakar khas warung yang berada di salah satu ruas jalanan Kota Bandung tersebut. Yang membedakannya dengan sop biasa adalah proses memasak sepertinya langsung dari mangkok tanah liat yang dibakar.
Sop ini disajikan dengan potongan kentang dan wortel dan aroma segar. Ketika di lidah, rasanya spesial karena bumbu merica yang cukup terasa. Begitu lembutnya daging yang digunakan, bahkan tulang rawan sop iga bakar juga bisa tandas di perut. Membludaknya pelanggan yang ingin menikmati iga bakar ini membuat pemiliknya membuka satu cabang lagi di Jalan Rajiman, yang berdekatan dengan praktik Dokter Sanjaya, Bandung.
