Kupang Lontong Suko Favorit Artis dan Pejabat

0
kupang-lontong-2

Bagi Anda yang gemar berpetualang,  icip-cicip makanan yang tak bisa ditemui di tiap daerah, jangan hindari spot makan di Purbalingga, Jawa Tengah ini. Pernah dengar kata ‘kupang’? Bukan nama daerah, tapi sejenis kerang kecil yang menjadi bahan makanan khas Sidoarjo atau Surabaya. Makanan tradisional ini punya tempat legendaris yang cocok untuk berwisata kuliner, yaitu Kupang Lontong Suko. Lokasinya berada di Desa Suko, Pasar Suko, Sidoarjo.

Kupang lontong memang menjadi andalan warung makan dengan bangunan putih biru sederhana yang  terletak sedikit tersembunyi dari jalan raya. Makanan khas Sidoarjo ini mempunyai citarasa eksotis antara  manis, asem, gurih, dan pedas.

Kerang super kecil ini direbus dengan kuah menyerupai sop. Pembuatnya akan meracik bumbu petis, bawang  putih dan cabe dengan sedikit perasan jeruk nipis. Kerang kemudian diberi lontong dan dimakan selagi hangat. Tambahan rasa unik akan didapatkan dari lento, sejenis makanan dari singkong dicampur kacang merah.

Anda tidak perlu khawatir dengan bau amis kerang, karena di tempat  ini kerang diolah sampai baunya hilang.  Menikmati kupang lontong, Anda bisa memesan sate kerang yang juga tidak kalah fenomenal rasanya. Sate kerang tidak dibakar, tetapi direbus  yang juga bisa dimakan dengan kecap dan sambal petis. Untuk minum, sangat tepat dipadu dengan air kelapa muda. Ini juga baik untuk mentralisir kerang bagi yang alergi atau sensitif dengan jenis seafood.

Rasa khas kupang lontong suko sudah tersohor dari waktu ke waktu. Meski sebenarnya kupang lontong amat mudah ditemui di Sidoarjo dan beberapa tempat di Suarabaya. Pelanggannya dari masyarakat biasa sampai artis dan pejabat terkenal. Sebut saja Basofi Sudirman, mantan gubernur Jawa Timur dan Jenderal Ryamizad Ryacudu yang menjadi pelanggan tetap warung ini. Dari kalangan artis ada Yuni Shara, Uut Permata Sari, Anneke Putri, Surya Saputra dan sederet nama lain pernah menjajalnya.

Warung Kupang Lontong  Suko memunyai sejarah cukup panjang. Awalnya dijajakan  keliling oleh Cak Slamet,  ayah dari Nanik Sundari (pengelolanya saat ini). Sampai kemudian tahun 1980 dia membuka warung permanen seperti sekarang setelah sempat berpindah-pindah. Rasa yang sudah dikenal membuat warungnya tetap dicari pelanggan setia. Tidak heran, pendapatannya mencapai kisaran Rp. 800.000-an perhari, naik hingga Rp. 2.000.000-an jika libur. Sangat lumayan untuk warung sederhana di kota kecil seperti Sidoarjo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *